Candi Muara Tikus, Mengenal Sisi Menariknya

Candi Muara Tikus, Mengenal Sisi Menariknya

hobitrip.com – Indonesia adalah negara yang sangat kaya dengan berbagai peninggalan sejarahnya. Peninggalan sejarah tersebut diantaranya yakni kompleks percandian yang menyimpan cerita sejarah. Apakah kamu sudah pernah mengunjungi candi Budha terbesar di Sumatera? Jika belum, mari ketahui beberapa hal menarik dari candi muara takus yang tidak kalah indah dengan wisata sejarah lainnya di Indonesia. Bagaimana dengan Candi Muara Tikus?

Candi Muara Tikus dari Sudut Pandang Traveler

Sebagai wisata peninggalan sejarah agama budha terbesar di Sumatera, candi ini merupakan bukti kekuatan Kerajaan Sriwijaya Kuno. Untuk mengunjungi bangunan bersejarah ini, kamu harus menempuh perjalanan ke Provinsi Riau.  Masih ada bangunan dan monumen arkeologi lainnya di daerah ini berasal dari abad ke-11-12.

Ini adalah salah satu kompleks candi kuno terbesar dan terpelihara dengan baik di Sumatera. Selain itu, Muara Takus adalah satu-satunya kompleks di Riau yang membuktikan betapa luas penyebaran agama Buddha di wilayah ini.  Saat itu, wilayah Riau  biasa menjadi pusat keagamaan serta perdagangan.

Saat ini, ada zona arkeologi yang terawat baik dengan rawa, jalan setapak, dan beberapa tanda informasi.  Namun, semua deskripsi diberikan dalam bahasa Indonesia. Turis atau pelancong Internasional dapat mempelajari lebih lanjut tentang candi muara tikus dari para pemandu lokal.

Bentuk Menarik Candi

Saat memasuki wilayah kompleks percandian candi muara tikus, kamu akan disambut dengan pemandangan kuil yang memiliki stupa unik. Kuil Mahligai adalah candi muara tikus utama berbentuk stupa teratai tinggi dihiasi ornamen di antara sekelilingnya yang menarik perhatian berupa batu bata. Titik perhatiannya terletak pada ukurannya yang cukup beaar karena berbeda dengan candi Budha lainnya.

Gambar stupanya unik, meski di Thailand dan Myanmar banyak terdapat bangunan kuno serupa, namun tetap saja menimbulkan ciri khas tersendiri.  Tingkat atas stupa berbentuk sosok singa, sayangnya hampir tidak terlihat melalui sudut pandang bawah bangunan.  Candi tersebut dibangun dengan material batu-batuan seperti bata, pasir, dan kali.

Ada cerita menarik mengenai proses pembuatan konstruksi yang saat ini dapat dinikmati sebagai situs sejarah. Konon, orang-orang lokal mengirimkan material bangunan bata dengan tangan, melewatinya secara gotong royong berbaris di sepanjang garis panjang menuju bangunan candi muara Tikus. Sayangnya lokasi untuk menuju wisata sejarah ini cukup jauh dari pusat kota Pekan Baru. Harus dipertimbangkan bahwa mengunjungi kompleks tidak akan memakan banyak waktu, tetapi kecuali untuk berjalan-jalan di sekitar reruntuhan, tidak ada hiburan di dekatnya.

Namun demikian, ini adalah pilihan yang sempurna untuk perjalanan sehari-hari karena kesan dari kuil-kuil kuno akan dilengkapi dengan jalan yang indah melalui perbukitan hijau.
Legenda Menarik

Sebuah legenda lokal menyimpan cerita tentang gajah misterius yang sering terlihat di dekat Muara Takus.  Sumber-sumber etnografi menyebutkan seseorang bernama Datuk Laweh Talingo, yang memiliki telinga sangat lebar hingga bisa menutupi dirinya seperti selimut menjadi cerita legenda daerah setempat secara turun temurun atau biasa yang disebut dengan sastra lisan masyarakat.

Pria itu mengambil bagian dalam pembangunan kawasan pejalan kaki kuno Muara Takus.  Tetapi bahkan setelah kematiannya, dia dapat menyaksikan penciptaan kota.  Legenda tersebut mengatakan bahwa Datuk berubah menjadi gajah dan kembali ke tempatnya dengan kedok baru.

Nah, itulah beberapa sisi menarik dari candi Muara Tikus yang wajib kamu ketahui. Sebagai sistus bersejarah yang masih bisa dikunjungi, candi ini termasuk warisan dunia yang patut masuk dalam wishlist piknik kamu. Selain mempelajari sejarah, tentu saja bisa menikmati pemandangan sejuk sekitarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *